Tampilkan postingan dengan label Think It. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Think It. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 April 2012

Assalamu'alaikum... *gaya horor* hihihi, enggak ding, aku enggak semenakutkan itu. Udah lama ya gak nulis *lama kali pun =.=*. Maklumlah, udah sibuk sekarang, tinggal 13 hari lagi menuju UN. Ternyata napas kami masih lancar, belum satu-satu. Hihihi. Ini aja baru bisa nulis karena ada waktu luang sebentaaar aja. Sekali lagi, sebentaaar aja. Karena mendekati waktu perang kayak gini harus makin rajin mempertajam tombak, biar musnah semua lawannya. Temen-temen di sekolah pada buat slogan: habis US terbitlah UN. Habis UN terbitlah SNMPTN. Hidup ini emang enggak jauh-jauh dari ujian...

Nnnahhh~ *pake hawa*, apa yang menjadi pembicaraan hari ini? Soal pacaran lagi? Bosen. Lagian kemaren itu udah clear, jadi apa lagi. Toh kewajiban aku sebagai muslim kan menyampaikan. Kalo enggak mau dilaksanakan ya enggak masalah. Toh dosanya juga yang nanggung itu diri sendiri kan? *gaya bang Rhoma ngomong* Ada juga sih yang akhirnya enggak mau pacaran lagi, tapi ternyata ada juga yang malah baru jadian. Ya udah, itu bukan tanggung jawab saya. Hihihi.

Aku mau bahas soal bibir. Heh? Maksudnya? Iya, lebih tepatnya soal komunikasi. Kita kan makhluk sosial, jadi yang namanya komunikasi itu penting banget. Komunikasi itu pembicaraan antara 2 orang atau lebih. Ada komunikasi yang baik, ada juga yang buruk. Ada yang buruk dari segi isi, ada juga yang buruk dari segi penyampaian. Sebenarnya kalo hal yang diomongin itu agak buruk tapi disampaikan dengan baik itu lebih baik daripada hal yang diomongin itu bagus banget tapi cara penyampaiannya itu buruk, enggak komunikatif *ceilah*. Maksudnya bakalan ada miskomunikasi antara satu dengan yang lain. Tapi jauh lebih baik kalo dari segi isi dan penyampaiannya sama-sama baik.

Baik itu sesuatu yang bagus maupun yang buruk, kalo seharusnya disampaikan ke orang yang bersangkutan ya sampaikan. Malah ada yang bilang: katakanlah meskipun pahit. Cyeeilah. Ya iya, toh kalo enggak penting disampaikan ya jangan. Jangan malah kata-kata yang diucapkan jadi bumerang, membal balik sama kita sang penyampai berita.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan kalo yang namanya komunikasi, terutama dari cara penyampaiannya. Pertama, lihat dulu isinya. Apakah isinya itu penting banget untuk disampaikan atau enggak. Apakah isinya itu berbobot apa enggak. Hitung berapa bobot katanya *ehhh enggak gitu =.=*. Apakah itu sebuah masalah atau berita. Kalo itu berita, apakah itu berita baik atau buruk. Kalo enggak ditinjau dulu, malah jadi berabe. Yang isinya aib disampein ke orang lain, apalagi gak ada tujuan baik di dalemnya. Pas yang diomongin itu denger, uwwooo~ Perang dingin pun dimulai. *buka kulkas*

Kedua, timingnya. Pas gak sih hal itu disampein. Kalo darurat mah enggak perlu liat waktu sebenarnya, tapi kalo enggak terlalu urgent itu perlu. Pas orangnya lagi bete malah diajakin ngomong soal masalah yang bisa disampein beberapa jam kemudian, malah jadi repot. Orangnya sewot, masalahnya bukan kelar, jadi tambah melilit. Makin ada miskomunikasi, dan perang dingin pun muncuuul lagi~

Ketiga, nada penyampaiannya. Jangan pake nada gembira, atau kayak marah besar kalo yang disampein itu masalah atau berita buruk. Sempat kayak gitu disampeinnya, yang denger malah makin parah. Kalo itu berita orang meninggal, malah pingsan. Kalo itu masalah, malah yang nyampein ditimpuk batu sama lawan bicaranya. Jangan juga kalo itu berita bahagia, disampeinnya pake nada orang sedih, atau bahkan iri. Yang jadi lawan bicara kita malah membathin, ini anak seneng gak sih kalo aku dapet berita bahagia kayak gini? Daaan perang dingin pun dataaang lagi~

Keempat, sama siapa hal itu disampaikan. Sama adek, temen, kakak, guru, atau orang tua? Ini penting, karena berhubungan erat sama nada penyampaiannya. Tapi bukan berarti kalo sama orang yang lebih muda malah sok oke nadanya. Enggak gitu juga. Tetep jaga sopan santun sama lawan bicara, siapapun dia.

Terakhir, hargai lawan bicaranya. Kita itu kalo lagi ngomongin sesuatu, khususnya masalah, jangan kita sendiri aja yang ngomong. Itu monolog, bukan dialog. Kalo kita terus yang bertitah disitu tapi enggak memberi kesempatan buat orang lain bicara ataupun mengomentari, ini yang mengakibatkan satu sama lain jadi makin panas hubungannya. Kalo itu masalah, sampaikan dengan kepala dingin, hati terbuka dan ada apanya, eh, apa adanya. Jangan disampaikan dengan berapi-api, ngotot, apalagi sampe kita terkesan enggak mau mendengar tanggapan dari lawan bicara. Langsung ngeloyor pulang gitu aja. Bakalan enggak selesai masalah itu.

Semoga cara-cara di atas buat kita bisa berkomunikasi lebih baik kepada orang lain, jadinya enggak ada lagi miskomunikasi sama orang lain di sekitar kita. :)

Kamis, 05 Januari 2012

Alhamdulillaaaaah~ sinyalnya udah agak geunah sekarang. Inilah masalah yang buat aku enggak buat postingan berhari-hari. Yaaa mohon maaf ye para fans, aku gak bisa ngelayani kalian secepat mungkin *dilempar guling*.

Oke, buat menyampaikan kerinduan ini *ini kalimat kok agak gimanaa gitu ya?*, to the point ajalaya. Nah, aku mau ngepost sesuatu. Soal semangat. Oke, sekarang siapa yang semangatnya kendur mana tangannyaaa~ maksudnya tangannya biar dipinjam buat dibawa pulang *basi*. Begini. Terkadang kita sering banget yang namanya semangat kendur tak karuan. Apalagi kayak kami anak-anak kelas 3 yang galaunya ampun karena entar lagi kudu menghadapi ujian bertubi-tubi kayak peluru cinta kamu ke hati aku *sempatnyaaa la gombal ituya*. Gara-gara liat temen yang lebih oke, punya segudang prestasi jadinya kita langsung ciut tu nyalinya. Kayak dimasukin langsung ke dalam freezer, jadi ada shock therapy tiba-tiba.

Ah, dia mah jago bener. Mana bisa aku ngalahin dia. Tiap hari dia cuma liat soaaal aja, aku coba, kayak gini modelnya. Entah kapaaan lah geunahnya. Begitulah suara hati anak-anak kelas 3 kalo di waktu yang kayak gini. Liat kalender kayaknya udah mau mual aja. Rasanya kalo dikasih buat ngucapin 1 permintaan, yang bakal diucapin adalah: bunuh aku sekarang! Oh, tiiidaaaak~ ooooh~ *gaya teletubbies mau berpisah*. Is that really important to do? Enggak. Serius, gak penting banget kayaknya yaa~

Be yourself. Be yourself and be yourself. Udah saatnya kita usaha buat persiapan dari sekarang. Tapi tetep jadi dirimu sendiri, apalagi pas SNMPTN nanti. Jangan sementang temen mau kesono, kita kayak bayangan diaaa aja ikut-ikutan. Tiba ada temen yang bilang: aaah, ketinggian banget pilihanmu itu, dengarkan tapi jangan masukin hati plus otak. Jadi diri sendiri aja, toh yang tau mau kita itu siapa? Kita kan? Trus, pilih sesuai dengan minat en bakat. Udah sekolah 12 tahun pastinya tau kan minat bakat kita itu kemana. Pikirin kalo setelah masuk apa kita enjoy dengan jurusan itu apa enggak. Karena suasana kuliah pastinya beda sama sekolah, terutama seragam *kok bawa seragaaam lagi =.=*. Terus, ini yang perlu: banyakin do'a en amal. Minta restu emak babe karena restu mereka restu Allah juga. Oke? Ini juga jadi catatan buat aku yang juga kelas 3. Mohon doanya yaaa~ *tahapa yang didoain yang penting doa kan? xD* *parah amet lu, maksudnya do'a yang baik tau, lulus SMA masuk PTN favorit gitu~*

Oke? Nah, aku harus bersiap lagi buat ujian yang bertubi itu. Jangan salahkan aku nanti ya kalo blog ini bakalan banyak sarang laba-laba karena jarang dibuka xDD

Minggu, 01 Januari 2012

Kemalaman ya kayaknya nulis postingan jam segini. Yaaa, not really if you get so many idea in this time :D tapi sebenarnya lebih baik share lebih cepat dibanding enggak sama sekali, apalagi dengan judul yang seperti ini, isn't it?

Oke. Kita cerita soal fakta. Fakta yang udah terus bertambah setiap detiknya kalo kita bener-bener kekurangan teladan. Kita, secara otomatis, terbentuk menjadi rakyat, pendengar sekaligus pemerhati yang enggak bisa langsung menjadikan salah satu orang di depan mata kita sekarang sebagai teladan kita. Tapi apa sebenarnya teladan itu? As you know, teladan adalah *seseorang* yang bisa dijadikan sebagai barang contoh terbaik dari yang lainnya, jadi lifestylenya kita ikuti, kata-katanya kita jadikan sebagai quote dan perbuatannya bisa membuat kita sadar dan kita ikuti, meskipun sebenarnya tidak semua hal darinya kita bisa copas tanpa saring. Karena yang namanya teladan tetap manusia, pasti ada kekurangannya.

Tapi teladan bernilai lebih tinggi dari standar yang ada, dan standar itu sendiri secara otomatis dapat kita tentukan, berdasarkan kode alam *???*. Jadi kita udah bisa tentuin siapa yang jadi teladan kita *dan biasanya teladan itu bernilai baik*. But, kenapa kita bener-bener kekurangan teladan? Kalo misalnya teladan itu bernilai lebih tinggi dari standar dan kita kekurangan teladan, berarti hampir semuanya berada dalam posisi standar, bahkan di bawah standar itu sendiri. Seperti aku, siswa. Aku rasa aku tak pantas dibilang sebagai teladan. Banyak hal yang kulakukan sebagai siswa tetap pada nilai standar bahkan ada yang di bawah standar. Dan aku belum bisa menuliskan siapa yang tepat disebut sebagai siswa teladan walaupun udah ada pemilihan siswa teladan.

Presiden. Bukannya sok baik, tapi inilah rakyat, bisa menilai dan bebas mengungkapkan pendapat. Di Indonesia, belum ada setauku presiden yang mau keluar malam-malam tanpa pengawalan super ketat terus mantau lingkungan tempat dia berada *bukan berarti tempat tinggalnya*. Jadi presiden belum tentu liat apa yang terjadi di tengah malam, kalo ada anak yang tinggal di bantaran sungai yang menangis di tengah malam gara-gara gak dapet makanan. Mungkin itu urusan remeh-temeh untuk sekaliber presiden, tapi dengan menyelesaikan urusan sekecil itu beliau belajar untuk menyelesaikan urusan lebih besar. Kita lihat Umar bin Khaththab yang keluar malam, sendirian ketika beliau jadi khalifah, mendengar anak menangis ketika gak ada makanan sementara emaknya cuma bisa ngerebus batu, dia langsung bawa banyak makanan, digendong di atas punggungnya sendirian dan dianter langsung tanpa pengawal.

Guru. Mohon maaf kalo ada yang tersinggung, but this is the fact. Banyak banget guru yang terlambat masuk gara-gara keasyikan ngobrol sama guru lain. Bisa sampe udah satu les baru dateng. Banyak yang berkata sama muridnya: saya enggak perlu kalian sebenarnya, karena gaji saya dikasih dari pemerintah, jalan terus kok. Bukan kalian yang gaji saya. Kalo begini berarti yang mau didapetnya cuma gaji bukan mau paket lengkap, plus pahala yang terus mengalir. Aku tau, enggak semua guru begini dan selama 12 tahun aku sekolah, aku nemuin beberapa guru yang bisa dijadikan teladan, tapi kurang.

Aktivis dakwah, bahkan ustadz. Begitulah. Ada beberapa, tapi kurang. Bukan berarti menyalahkan ulama, enggak. Tapi dari pantauan, banyak yang belum sesuai antara kata dengan perbuatan. Pemahaman yang berbeda juga ngaruh ke sikap. Toh aku juga aktivis dakwah, berarti aku juga masuk di dalamnya. Banyak ustadz yang menyampaikan sesuatu tapi belum ada dalil naqli en aqli yang mendasari. Kebanyakan bercanda, tapi intisari materi belum dapet.

Mohon maaf sekali lagi, kalo ada yang enggak berkenan dengan penggunaan kata-kata disini. Bukan berarti membeberkan aib, tapi ini berguna buat kita juga sebagai bahan introspeksi diri, apalagi di awal tahun begini.  Dan tentunya, menjalani semuanya enggak mudah. So, mulai sekarang udah waktunya kita perbaiki diri menjadi yang lebih baik. Kita, berarti termasuk juga sang penulis. Tapi bukan terobsesi menjadi teladan, karena orang yang benar-benar teladan adalah orang yang tak pernah berharap menjadi seorang teladan. Dan sebaik-baik teladan adalah Rasulullah. :)

Sabtu, 31 Desember 2011

Maap yee, kemaren aku gak produktif kali nulis disini. Biasa, tiba-tiba akunya cakit~ *sok imut*. Yaah lumayanlah, gakbisa bangun juga kemaren. Tapi alhamdulillah udah agak baikan *elus dagu*. Makanya udah bisa buat postingan sekarang~

Oke, ini tanggal 31 desember ya? Oh *pasang muka datar*. Sebenarnya kalo aku nyambut tahun baru Masehi ini biasa aja, karena kemaren udah tahun baru Hijriyah, tahun barunya ummat Islam. Tapi yaa karena tinggal di negara yang pake tahun Masehi, it means aku juga "ikut" melihat pergantian waktu ini. Sebenarnya, semakin lama aku hidup disini aku semakin sadar kalo waktu itu emang sama sekali enggak bisa diputar ulang, terus maju di setiap detiknya. Dan kita, sebagai makhluk yang "terbawa" dalam waktu ngerasa selo-selo aja kalo waktu itu terus berjalan. Padahal kalo dipikir lagi, apa sih yang udah dilakuin buat Dia, diri sendiri, keluarga, orang-orang terdekat, juga bangsa en negara? Kalo kita tetep selo-selo gini aja ngeliat waktu terus berjalan, ya kita bakalan tertinggal terus.

Mungkin ini terlihat muluk, tapi liat aja. Orang Indonesia, bangun, shalat shubuh, terus ngeloyoooor aja depan tipi sampe udah waktunya mandi. Pakaian, sarapan, berangkat. Kalo pelajar ni ya, belajar sampe sekolah tapi belajarnya itu enggak fokus. Cuma ngelewatin jam pelajaran gitu aja, udah, pulang. Sampe rumah main hape saaampe sore. Atau ngeloyor depan tipi, atau juga buka komputer tapi cuma ngeliat temen-temen facebook. Kadang kalo ada status yang isinya sedih dicomment: sAbaR eAAgH~ Atau kalo dia statusnya soal baru jadian, dicomment: ceLaMat EaagH~ Begitulah seterusnya sampe tidur. Nah, bule? Gimana? Produktivitas waktunya jauh lebih maju ketimbang kita yang suka ngeloyor sana sini. Pagi, sarapan *kalo mereka muslim ya shubuh dulu*, kadang enggak mandi, terus ngantor atau sekolah. Karena mereka bener-bener fokus dalam bekerja ataupun belajar, mereka jauh lebih maju dibanding kita. Baru dah, pulang, istirahat ataupun ngerjain PR atau main.

Nah, kalo sampe tahun 2012 bangsa Indonesia tetep gitu-gitu aja enggak ada perubahan, kita ya tetep jadi bangsa yang tertinggal. Kalo kita mau ngecapai sesuatu, atau kalo bahasa selebritinya mah resolusi, kita juga kudu usaha jauh lebih keras dibanding tahun sebelumnya. Kayak eike nih, insyaAllah mau jadi mahasiswa, aku harus belajar jauh lebih fokus en keras dibanding tahun sebelumnya. Kalo kita mau dapet prestasi yang bagus, kita kudu berjuang jauh lebih keras. Lebih memanfaatkan waktu, soalnya waktu sekarang jalannya lebih cepat. Bukan berarti istirahat itu enggak boleh ada, tapi yaa harus dioptimalkan dengan kerjaan kita satu harian. Kebanyakan istirahat juga enggak bagus buat tubuh kita, isn't it?

Oke, jadi apapun resolusi kita tahun depan *serius, aku capek kali dengar kata-kata resolusi yang terus disebutin di tipi*, kita harus berusaha jauh lebih keras lagi dan berdoa jauh lebih banyak lagi. Toh kalo usaha enggak ada doa sama aja nol. Kita boleh bilang: semoga tahun depan bisa lebih baik lagi, nah bukan berarti waktu itu sendiri yang memperbaiki semuanya kan? Kita juga yang kudu usaha buat jadi lebih baik. Jangan mau dikendalikan waktu tapi kendalikanlah waktu itu sendiri *eaaa tumben bijak xDD*

Jumat, 30 Desember 2011

Mau nulis apa ya jam segini? Yaah, as usual, pagi-pagi gini aku nulis disini sekaligus mantau siapa aja yang baca. Kalo fans aku yaaa pasti tau kok, gak mesti dijelasin *dibacain yasin*. Yaaaa i'm so happy bcoz many more blog viewer who wanna view my blog *karena udh dipublish di fb juga ini =.=*. Nah, pagi ini, i'd like to share about my town heritage, Masjid Raya Al Mashun Medan.


Kalo dia itu seorang yang tinggal di Medan, ataupun dia itu suka sama sejarah Melayu, or maybe if he is not Indonesian, he is a backpacker who likes visiting Medan very much, pasti tau soal mesjid ini. Peninggalan Kesultanan Melayu yang super duper megah, en kalo enggak salah mesjid ini udah well-known banget around the world. Karena letaknya strategis, gak terlalu jauh dari pusat kota. Masjid mulai dibangun tanggal 1 Rajab 1324H atau 21 Agustus 1906 dan selesai 10 Sept 1909 oleh Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Rancangannya juga luar biasa megah, pokoknya kalo kita liat pola bangunannya terus juga gaya arsitekturnya, masih dibilang enggak ketinggalan zaman, karena gayanya diambil dari budaya Timur Tengah, India en Spanyol. Bahan dekorasinya juga dari Italia en Jerman bahkan dulu jadi bagian dari istana Kesultanan Deli *jaraknya sama Istana Maimoon kan enggak jauh-jauh amat*. Mesjid ini dibangun dengan bentuk segi-8, memiliki 4 sayap disetiap bagian selatan timur utara dan barat yang berbentuk seperti bangunan utama tapi ukurannya lebih kecil. Luas keseluruhan bangunannya  5.000 meter.

Konsep bangunan utama beserta bangunan sayap katanya merupakan konsep bangunan masjid kuno di timur tengah. Disana masjid dibangun dengan ruang tengah sebagai ruang utama (disebut sahn) dan empat sayap berupa gang beratap untuk berteduh (disebut mugatha/suntuh). Hiasan di masjid ternyata bukan berupa kaligrafi melainkan ukiran bunga dan tumbuhan. Dan berbeda dengan masjid lainnya, kubah masjid ini tidak berbentuk bulat namun persegi 8 dan agak gepeng. Kubah berjumlah 5 buah, yang paling besar berada diatas bangunan utama dan 4 lainnya diatas masing2 sayap. Disetiap ujung kubah terdapat ornamen bulan sabit sebagai penghias.






Tapi, liat aja foto di atas, terutama foto terakhir. Keliatan banget kalo mesjid ini udah gak diperhatikan lagi kelestariannya. Kalo misalnya masuk ke dalam tempat wudhunya *tempat wudhu akhwat ya, eike kan perempuan*, banyak banget benda-benda enggak penting tertonggok disitu. Ada yang buang ludah sembarangan, yah gitulah. Halamannya masih bagus, tapi liat aja daerah depan mesjidnya. Kacanya udah banyak yang pecah, catnya udah gak murni lagi gara-gara banyak kotoran entah apa di dinding, yaa seperti itulah. Padahal kalo dipikir, ini kan tempat wisata. Pasti ada aja bule ataupun wisatawan domestik yang berkunjung, foto bareng bahkan dijadiin tempat foto pre wedding.

Yang peduli sama mesjid ini? Kalo di tempat akhwat, cuma satu. Itupun nenek-nenek umur 85 tahun. Bayangin aja, umur 85 masih kuat buat ngutipin mukena yang asal ditaruh aja sama penggunanya atau waktu shalat dijadiin apaa gitu makanya kotornya ampun. Memang, minjem mukena disana kudu bayar, tapi aku rasa itu wajar karena orang sekitar ataupun pemerintah enggak ada nyiapin dana buat kemaslahatan mesjid ini. Aku juga kurang tau soal kasnya, tapi jelasnya kurang kalo enggak ada bantuan pemerintah. Jelas, ini udah kewajiban pemerintah kota Medan buat nyiapin program atau dana khusus buat melestarikan tempat-tempat bersejarah kayak gini. Bayangin aja, berapa dana yang harus dikeluarin buat gantiin kacanya yang pecahnya banyak dan ornamennya langka gitu? Baru kaca, belum cat, pilar, menara, dan lain-lain. Kalo cuma makein kasnya, jelas aja gak cukup.

Dan siapa lagi yang harusnya peduli kalo enggak kita? As we know, kalo kita ngarepin pemerintah aja buat pelestarian mesjid ini, entah kapan ditangani. Kepercayaan masyarakat sama pemerintah soal beginian memang udah bernilai nol karena kebanyakan janji tapi enggak ada realisasi. Bukannya kalo kita melestarikan mesjid ini berarti kita udah menanam sekian kebaikan buat diri kita sendiri? :)


data dan gambar diambil dari wikimapia.org

Rabu, 28 Desember 2011

Jiahahaha. Biasa, yang udah cukup umur ini agak susah. Aku kan sekarang udah berumur 17 tahun 1 bulan 3 hari, jadi yaa cocoklah untuk dibilang cukup umur. Sebenarnya gak enak juga, masa-masa kecil yang dulu harus berganti jadi dewasa. Tapi yang namanya siklus kehidupan memang harus dijalani begini. Entar lagi kuliah, tamat, kerja atau mungkin lanjut kuliah lagi, selesai, menikah, punya anak, blablabla sampe tiba pada masanya untuk menghadapi kematian. Atau sebelum itu, kita telah didatangi malaikat maut. Who knows?

Jadi, sebagai warga negara Indonesia yang baik, harusnya mematuhi peraturan negara. Jadi aku menaati panggilan untuk membuat eKTP, alias KTP elektronik. Canggih sih memang. Sampe tempat, aku, emak en babe dikasih kartu nomor urut yang ternyata kami bertiga berturut dipanggil. Kami pun menunggu. Aku ngeliat ke petugasnya, 2 ibu yang kata emakku dua-duanya judes. Memang keliatan kalo ngelayaninya itu terkesan gak pake hati, cuma demi memenuhi tugas. Terakhir dia teriak, "jangan bawa pulang undangannya ini ya pak, bu." Emak celoteh, "siapa yang mau bawa pulang? sampe rumah pun kertas undangannya dibakar."

Dan akhirnya tibalah waktunya kami bertiga dipanggil. Petugas yang di bawah ngomong, "ini eKTPnya lama lagi keluar. 6 bulan lagi kira-kira." Di atas kami dilayani sama petugas yang jauh lebih ramah. Babe sama emak dipanggil duluan setelah itu aku untuk perekaman data. Dan tibalah saatnya aku. Data diriku disebutin, dan terakhir ditanya, "mahasiswa?", "siswa mbak~" jawabku. Segini muda mukanya kok dibilang mahasiswa *dilempar combro*

Dan akupun difoto tanpa kacamata. Mulai dilakukan perekaman data, dari sidik jari sampe kira2 6 kali terus diminta x-ray iris mata sama tanda tangan. Aku nanya, "mbak, saya belum buat KTP sebelumnya, ini baru pertama kali. Jadi apa saya buat KTP biasa juga atau gimana?" Mbak yang kutanya nyodorin pertanyaannya ke bapak-bapak di sebelahku. "Penting enggak itu?" "Yaa enggak terlalu penting sih pak~" "Yaudah, gakusah dibuat, eKTP aja".

Belakangan aku baru tau kalo eKTP itu kayak kartu juga, cuma ada chip gitu di dalamnya. Disitu ada sidik jari sama x-ray iris mata kita sebelumnya. Yah, sudah mulai keliatan kalo Indonesia mulai lebih modern~

Sabtu, 24 Desember 2011

Oke, pagi ini saya akan memberikan tausiyah *digebuk dari belakang*, maksudnya memberikan petuah *dilempar pensil dari belakang*, maksudnya memberikan apaaalah *ini penulisnya sungguh enggak penting*. Mungkin kalo emakku tau aku nulis beginian pagi ini, mungkin laptop ini bakal dijemur di belakang rumah *bukannya yang nulis ya yang harusnya dihukum?*.

Pagi ini aku baru dapat kabar kalau calon universitas tempatku belajar nanti bakal buka SNMPTN undangan lagi. Serius, aku langsung bingung. Gimana enggak, aku udah liat en baca soal banyaknya unfair di jalur ini, dan yang paling banyak itu di kampus ini. Para mahasiswa kampus ini pada komplain soal sistem penerimaannya, karena di zamannya mereka itu lewat ujian masuk, dan soalnya terkenal sulit plus tak pernah bocor dari tahun ke tahun. Jadinya angkatan berikutnya yang mau masuk harus deg deg ser *apaa lagi ini?* buat menghadapi soalnya. Banyak juga calon mahasiswa yang ambil undangan tapi gagal karena banyak unfair disini, seperti adanya tes tambahan tetapi berbeda di tiap kota *dan tes ini hanya untuk satu fakultas, seni rupa dan desain*.

Kampus ini juga terkenal dengan mahalnya biaya, tapi sebenarnya tidak. Kalo sanggupnya separuh dari itu, ya pilih aja yang separuh, ngapain maksa. Kampus ini juga terkenal dengan lulusannya yang banyak kerja di luar negeri, ambil beasiswa di luar negeri atau kerja di Indonesia dengan posisi yang menjanjikan, tetapi sebenarnya lulusan kampus ini tidak mengharapkan semua itu. Mereka hanya ingin berkarya demi Allah, bangsa dan negara. In harmonia progressio. Tau kampus apa ini kan? Gak usah lah ya disebut lagi.

Dan katanya, jalur undangan malah tetap sama porsinya dengan tahun lalu. Nah, gimana itu jadinya? Aku juga gak bisa berspekulasi karena aku sendiri baru jadi calon mahasiswa disana buat tahun depan. Apakah mereka yang policy maker enggak langsung turun ke lapangan liat fakta atau gimana aku juga enggak tau. Jelasnya, undangan itu punya sejuta kemungkinan. Belum tentu bisa lulus, meskipun keuntungannya kita gak perlu tes lagi. Banyak banget kejadian cuci raport atau apalah demi lulus ke undangan itu.

Sebenarnya aku berpikir begitu. Tapi, emakku berkata lain. Dia bilang aku harus ambil SNMPTN undangan. Kemarin aku bilang kalo tahun depan kampus itu punya kemungkinan gak bakalan buka undangan lagi karena kejadiannya kayak gini. Tapi dengan adanya pengumuman undangan dibuka en jatahnya tetep sama, mungkin emak bakal melakukan gencatan senjata *???* ke aku untuk tetap ambil undangan. Dan jujur, aku belum bisa memutuskan.

Sekarang, pendidikan Indonesia di mataku udah agak amburadul, apalagi penerimaan mahasiswa baru. Banyak terjad kecurangan di sana sini buat bisa kuliah di universitas bergengsi dan di jurusan bergengsi. Di kotaku aja, tepatnya di universitas paling bergengsi disini, banyak banget yang "pesan kursi" supaya bisa kuliah disana, ya di jurusan paling diminati. Dan buat tahun depan banyak juga teman-teman seangkatan yang bakal begitu. Entahlah, entah bagaimana Indonesia 10 tahun yang akan datang jika sistemnya tetap dipertahankan seperti ini.

Beda kalo kita mau kuliah di luar negeri. Kayak di Inggris aja, mereka gak ada sistem undang mengundang kayak pesta pernikahan gitu. Yang ada cuma 1 tes. Ya, 1 aja. Masuk, diucapkan selamat, gak masuk diucapkan mohon maaf anda gagal. Bahkan kemaren waktu aku tanya soal sistem penerimaan buat anak di luar Inggris dan ingin kuliah disana *karena kan raportnya anak Indonesia beda sama Inggris kalo dilihat dari sistematika penilaian*, mereka cuma bilang: we dont make any addition test for it. Jelas kan? Mereka cuma minta nilai TOEFL di atas 550 dan nilai IELTS di atas 6.5. Meskipun terlihat sulit diraih, tapi dengan begitu bisa terseleksi mana yang pantes lulus disana. En tamatannya insyaALLAH dijamin enggak abal-abal.

Jadi, gimana? Aku sarankan kita lebih banyak berdoa aja sekarang dan usaha makin diperketat. Indonesia adalah negara yang paling ketat seleksi penerimaan mahasiswanya se-Asia Pasifik. Jepang aja kalah. Persiapkan diri buat menghadapi sejuta kemungkinan dalam waktu 1-2 bulan ke depan.

Minggu, 18 Desember 2011

Pagi yang cukup cerah. Dan cerahnya pagi setelah hujan deras turun kemaren membuatku jadi singa yang enggak makan seminggu. Lapar tingkat dewa. Penting? Enggak. Abaikan.

Oke. Besok adalah hari ujian TERAKHIR, dan setelah itu aku dan teman2 seperjuangan ingin merefreshkan otak dengan acara menonton film. Aseeek~ Tapi ini untuk kalangan terbatas, yang jelasnya ada larangan: NO BOYS ALLOWED *persis kayak kamar anak perempuan, en ini berarti bapaknya sendiri enggak boleh masuk*. Karena ini acara khusus perempuan dan bahasannya juga bahasan seputar dunia keartisan, eh, dunia perempuan maksudnya *maap la ya obsesi jadi artis masih ada*.

Sebenarnya yang ingin dibahas bukan rencana kami mau hangout tanpa lelaki *eaaa*, tapi soal ujian besok. Bahasa Inggris, English. Yaah, kami kan udah tua, kelas 3 SMA, yang jelas untuk bilang "How are you? Fine, thank you, and you?" itu udah bisa la dikit-dikit *bleh?*. Dan Bahasa Inggris kayak udah salah satu kebutuhan utama bagi manusia di dunia, soalnya kalo gak bisa bahasa Inggris agak susah untuk menjelajah dunia luar. Buka kompi misalnya, belum pernah liat ada software dari Windows yang bahasanya itu bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Buka tipi misalnya, ujung-ujungnya ada Bahasa Inggris jugak. Lihar remote, yang ada tulisan home, menu, settings dan sebagainya. Buka kulkas juga bakal nemuin bahasa Inggris. Dan *entah mungkin emang lagi jamannya*, banyak orang Indonesia yang kalo di rumahnya pake bahasa Inggris. "Hey dear, dont you open that one, you can meet a knife and that will be dangerous for you. Watch out!" begitulah kata sang pembantu *iyaaaah pembantu dari mana sistemnya begini?*, oke, ganti kalimat. Begitulah kata sang emak pada anaknya. Sang anak pun menjawab, "teu kananaon eta mah, meuni teu bahaya teuing. Pan leungan abdi nu soekan". =___=

Dan di sekolah aja, kalo la kita masuk gerbang, kadang kita nemuin tulisan: Welcome to blablabla *sayangnya di sekolah kami gak ada kata sambutan macem begitu*. Masuk kelas, minimal jam Bahasa Inggris kudu ngomong pake Bahasa Inggris. Kadang kalo lagi rajin, pas jumpa di tengah jalan, guru Bahasa Inggris aku biasanya ngajak ngobrol pake bahasa Inggris. Meskipun cuma "How are you? Fine, thank you, and you?", tapi itu kan juga Bahasa Inggris. Secara enggak sadar, mulai dari bangun, tidur sampe bangun lagi  kita bakal make Bahasa Inggris.

Tapi, banyak juga yang enggak suka sama Bahasa Inggris, terutama emak-emak yang disekolahin pake sistem satu bahasa, bahasa Indonesia atau cuma bahasa daerah. "Udahlah, cukuplah ngomong yes no yes no  aja. Kan bisa juga itu". Meskipun gitu, kita kan gak bisa ngutarain suatu kalimat sama orang kalo cuma tau yes dan no aja. Mau bilang aku mau makan berarti: yes no yes no. Halaaah, gak penting. Abaikan.

Dan kalo misalnya kita ketemu bule di tengah jalan, dia nanya jalan, padahal sebenarnya kita tau jalan itu, tapi karena gak bisa bahasa Inggris kita langsung mati kutu, atau pake istilah bang Raditya Dika, pura-pura mati depan dia. "Can you show me the way to Maimoon Palace?" tanya sang bule. Kita: pingsan di tempat. Kan gak lucu juga.

Jadi, apapun ceritanya, kalo kita mau bertahan hidup di bumi *walah?*, kita kudu bisa bahasa Inggris, suka gak suka. Yah, beginilah bumi ini. Kudu ada bahasa pemersatu internasional, supaya dimanapun kita terdampar nanti kita masih bisa nanya dimana warung telepon terdekat, atau dimana kamar mandi umum terdekat *kalo udah kebelet*. Yah begitulah. Suka gak suka, cinta gak cinta, tetep kudu belajar bahasa Inggris. Nanti kan kalo udah punya suami, bilang aku cinta padamu bisa diganti dengan i love you biar romantis. *eciyeeeee ngomong suami lagi xDDDDD*

Sabtu, 17 Desember 2011

Yah, that's rite. Hari ini aku bakal banyaak banget ngeposting sesuatu yang bisa di-post. Biasa, weekend, jadinya menghabiskan waktu untuk berbagi kepada fans-fans di luar sana *bleh*.

Oke, hari ini saya senang. Meskipun ujian kimia agaknya sedikit menyebalkan karena ada 2 soal yang gak lengkap pertanyaannya, tapi alhamdulillah kipas angin di ruangan ujian tadi nyala. Penting? Enggak. Abaikan. Ada 1 hal yang buat saya senang hari ini tapi sekali lagi tidak akan diekspos ke media *dilempar gayung*.

Aku mau bahas 1 topik yang agaknya cukup berlaku buat umur 6 tahun ke atas: pendidikan. Agaknya topik ini sedikit membosankan. Tapi tanpa kita sadari pendidikan itu menjadi tolok ukur bagi kehidupan. Dalam agama aja dijelasin kalo orang yang berilmu itu lebih tinggi beberapa derajat dibanding dengan yang enggak berilmu, dan salah satu caranya dengan mengenyam pendidikan baik formal maupun nonformal. Bahkan, kalo ada perempuan yang dipinang sama 2 orang, emaknya ditanya siapa yang harus dia pilih. Pasti sang emak lebih milih yang berpendidikan, dan rata-rata yang berpendidikan lebih tinggi itu biasanya agak tajir *halaah*.

Kemarin aku pulang naik angkot *biasanya kan gitu sih*. Jadi di dalam angkot itu ada 3 ibu, dan yang setau aku 1 diantaranya adalah emak peserta wisuda di universitas paling bergengsi di Medan *bukan sejagat*. Cerita mereka panjang lebar, dan satu cerita yang lengket di otak soal temen sebaya mereka yang ngambil kuliah S2. Mereka bilang, buat apa kuliah S2 begitu. Mending dia kerja aja gak usah repot kuliah. Dan mereka enggak percaya kalo kuliah S2 itu ada yang pake beasiswa.

Jujur, spontan aku senyum-senyum sendiri. Berarti mereka masih punya satu paradigma yang enggak ganti-ganti: kuliah cuma buat kerja. Kan gak mesti kuliah juga baru kerja. Bangun warung depan rumah juga kerja. Malah kerjaan buka warung depan rumah masuk kategori pedagang, dan kalo dibuat data diri, terus ditanya pekerjaannya apa, pedagang masuk pilihan. Dan bangun warung itu gak mesti kuliah dulu.

Dan menurut penilaianku, masih banyak yang berpikir kalo uang itu di atas segalanya, kayak lagu Rhoma Irama, Judi *kagak nyambung neng~*. Ilmu, dalam hal ini pendidikan formal, cuma jadi syarat yang harus dipenuhi aja, karena tiap lowongan kerja dibuka biasanya salah satu syaratnya: pendidikan formal minimal D3/S1. Jadi, sebenarnya kuliah 3-4 tahun, yang menguras waktu en tenaga, yang menguras kocek sampe sobek berlipat itu cuma menuhin persyaratan itu aja? =.=

Baiklah, kalo memang pemikiran orang seperti itu. Toh kita gak bisa maksa pemikiran seseorang. Tapi kalo aku ditanya ilmu itu buat apa, ilmu itu bisa terbagi dua, bisa buat ibadah plus berbuat baik pada sesama, satu lagi ilmu itu bisa buat maksiat plus berbuat buruk pada sesama *karena disini semua ilmu belum tentu baik*. Nuntut ilmu yang baik juga ibadah kan? Kalo kita mau buat baik tapi gak ada ilmunya, misalnya mau bantuin temen ngerjain soal, kalo gak ada ilmunya juga gak bisa ngebantu. Kita mau ngelaksanain ibadah, shalat misalnya, kalo gak ada ilmunya ya sama aja gak bisa ngelaksanain. Mau korupsi, kalo gak ada ilmunya, mana bisa berbuat seburuk itu. Dan semua itu bisa buat kita lebih deket atau lebih jauh sama Yang Maha Memiliki Ilmu. Berarti, ilmu itu bisa buat kita makin deket sama Dia, bisa juga makin jauh sama Dia.

Ilmu itu memang gak hanya di kelas ataupun di laboratorium. Nonton TV kita juga bisa dapet ilmu. Buka internet juga bisa dapet ilmu. Tapi kalo dia orang bener2 penasaran dengan sebuah ilmu dan dia ingin mendalaminya, kan gak apa-apa kalo dia kuliah. Ilmu dia bisa diaplikasikan ke orang banyak, bahkan bisa buat penemuan baru yang bisa memajukan diri sendiri, keluarga bahkan bangsa sendiri. Dan tentunya ilmu yang diaplikasikan itu ilmu yang baik dan bermanfaat.

Beasiswa? Sampe S3 pun ada. Meskipun memang agaknya pas-pasan buat kuliah tapi setidaknya biaya kuliah itu memang terpenuhi. Dan kalo kita memang niatnya baik buat nuntut ilmu pasti ada aja jalannya biar bisa tercapai. Kalo perempuan yang kuliah sampe S3, why not? Toh perempuan sama laki-laki punya hak yang sama buat nuntut ilmu. Minimal dia bisa aplikasikan ilmunya itu buat dirinya, suaminya dan anaknya. *ciyeee yang udah ngomongin suami xDDD*

So, jangan pernah anggap aneh kalo ngeliat orang tua mau kuliah sampe S3. Dukung aja, toh itu juga buat kebaikan dirinya. Betul tidak? *pake nadanya Aa Gym :D*



Gak kenal ini siapa? Oke, aku kasih profilnya ya:

Abdul Djalil Pirous atau lebih dikenal dengan A.D Piraous lahir di MeulabohAceh, 11 Maret 1932. Sejak 1964 sampai dengan 2002, A.D. Pirous bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. A.D. Pirous pernah menjabat sebagai dekan pertama di fakultas ini pada tahun 1984. Memperoleh posisi Guru Besar pada 1994, A.D. Pirous mencatatkan prestasinya sebagai salah seorang perintis seni rupa Islam modern di Indonesia. Ia juga merupakan pendiri bidang studi Desain Grafis yang berlanjut menjadi bidang Desain Komunikasi Visual di ITB. Seusai masa baktinya pada dunia akademik di ITB, A.D. Pirous tetap mengabdikan dirinya sebagai pelukis dancendekiawan senior di bidang seni rupa dan kebudayaan.

A.D. Pirous dikenal dengan karya-karyanya yang bernafaskan islami. Pengungkapannya dalam lukisan lewat konstruksi struktur bidang-bidang dengan latar belakang warna yang memancarkan berbagai karakter imajinatif. Dengan prinsip penyusunan itu, pelukis ini sangat kuat sensibilitasnya terhadap komposisi dan pemahaman yang dalam berbagai karakter warna. Nafas spiritual suatu ketika muncul dalam imaji warna yang terang, saat yang lain bisa dalam warna redup yang syahdu, sesuatu juga bisa muncul dalam kekayaan warna yang menggetarkan. Sentuhan ragam hias etnis Aceh, yang memuat ornament-ornamen atau motif Buraq, juga memberikan nafas sosiokultural yang islami dalam lukisannya. Sebagai puncak kunci nafas spiritual itu, adalah aksentuasi kaligrafi Arab yang melafaskan ayat-ayat Suci Al-Qur’an.

"Bagi saya, seniman muslim itu mencipta sebagai pewujudan rasa syukur dan pembuktian saksi diri kepada-Nya. Karena itu karya seni seyogianya memancarkan rasa riang atas kebesaran-Nya, rasa khusyuk atas keberadaan-Nya, rasa indah atas kehidupan yang diberi-Nya, dan rasa tabah atas segala cobaannya.", A.D. Pirous

Dan ini adalah foto beliau sekaligus karyanya:



Dan beliau adalah kakeknya ibuku *kupanggil unyang* yang udah kira-kira 5 tahun enggak jumpa. Dan rasa rindu tiba-tiba menggelayut... 
Sebenernya, remaja itu apa sih? Oke, semua orang juga udah tau kalo remaja itu perkembangan menuju dewasa. Tapi, apakah remaja itu tanggung jawabnya di bawah dewasa?

Kita maklumi kalau ada istilah remaja di dunia, teenager. Biasanya dunia remaja itu dunia yang banyak enjoynya, banyak hangout sama kawan-kawan sebaya, banyak ngomongin soal cinta, banyak jahil sama temen atau sama yang lebih muda en sebagainya. Tapi kalo dipikir-pikir, apa ada gunanya kalo udah dewasa nanti?

Dalam agama, sebenernya kalo yang namanya udah aqil baligh itu yaa berarti udah dewasa. Pahala dosa ya udah ada sama dia. Kalo dia buat baik itu berpahala, kalo dia buat buruk ya berdosa. Nah, sama aja kan dengan dewasa? Gak ada bedanya. Oke, sekarang kita bisa buat kesimpulan. Yang beda antara "remaja" dengan dewasa itu cuma di psikologisnya, tapi kalo di urusan amal ibadah udah sama.

Banyak banget "remaja" yang ngerasa kalo di masanya sekarang itu kudunya banyak enjoy, banyak hangout, banyak ketawa ketiwi en segala macem. Oke, sekali lagi, psikologi remaja rata-rata emang gitu. Tapi apa bisa diminimalisir? Ya bisa aja. Kalo dipikir-pikir lagi, berapa banyak coba waktu para "remaja" itu dibuang gitu aja cuma buat hangout, enjoy, mikirin cinta, jahil-jahilan en sebagainya? Apa itu bisa dibilang menuju kebaikan? Kalo ngumpul sih iya, memperkuat silaturrahim. Tapi kalo keseringan hangoutnya gimana, hayo? Malah lebih banyak membawa keburukan. Apalagi hangoutnya itu di mall, barengan sama laki-laki yang biasanya itu kawannya dari kawannya dari kawannya kawan *libet*. Malah lagi musim hangoutnya itu di mall malem-malem. Ada gunanya gak sih itu?

Banyak banget "remaja" yang kejebak sama waktunya sendiri. Mereka lebih mikir untuk senang-senang aja dulu. Tapi apa sih tujuan hidup kita di dunia? Apa cuma senang-senang aja? Apa sih tujuan Allah ngirimin kita ke dunia? Cuma ngabisin waktu aja? Oke, untuk yang ini lain kali aja ya dibahasnya. Silahkan susun pemikiran soal ini :)

Jadi, apa yang seharusnya kita sebagai "remaja" lakukan? Sebenernya hidup kita cuma bentar aja di dunia. Kalo kita terus-terusan gitu aja gak ada perkembangan menuju ke arah yang lebih baik, gimana nantinya kalo kita ngehadapi Allah buat mempertanggungjawabkan semuanya? Waktu kita di dunia itu sedikit, jadi manfaatkan waktu itu buat kebaikan. Seperti yang dibilang tadi, kalo berbuat baik itu berpahala, kalo berbuat salah ya berdosa. Dan para "remaja" udah nanggungin itu semua semenjak aqil baligh. Bukan berarti hangout, enjoy en segala macemnya itu enggak boleh, tapi jangan jadikan itu sebagai prioritas hidup. Sekali-sekali aja, buat keperluan penting. Toh Allah Maha Melihat kan? Toh kita gak mau ngecewain Dia sebagai Pencipta kita kan?

Oke, saatnya "remaja" tidak hanya sekedar remaja biasa, tapi remaja yang luar biasa. Dan kita sama-sama belajar untuk ke sana :)

Minggu, 20 November 2011

Kalau dipikir-pikir, kenapa susah-susah amat ya mau kuliah itu? Masuk aja, udah. Kenapa mesti belajar ketat sampe muka ketat, otak ketat, gigi ketat *eh?*. Sampe nyitain waktu tidur, sampe minus matanya nambah. KENAAAPA? *galau stadium dua*

Gini ya, hidup itu penuh PER-SA-I-NGAN. Binatang aja, kayak bison misalnya, dapet makanan aja meskipun barengan tetap berebut juga. Ayam aja, meskipun dapet beras segoni *eh?*, tetep rebutan dapetnya walaupun sekufu. Yang pasti, persaingan dalam hidup itu pastinya ada. Siapa yang pintar, cerdik, banyak doa en diridhai ALLAH itu yang menang. Dan pastinya, kalau masuk PTN bergengsi Indonesia sudah bisa ditebak kalau kepintarannya di atas rata-rata, walaupun in fact gak juga. Tapi, apa emang hidup cuma ngedapetin PTN bergengsi terus semuanya udah bisa ditebak kisah hidupnya bahagia, gitu?

Jelas enggak. Malah, masuk kesana bakal jadi tantangan terbesar dalam hidupnya. Pastinya dia itu dituntut untuk sangat bekerja keras disana, ngadepin tugas yang lebih bejibun, dosen-dosen yang lebih berkualitas en praktikum yang nyita waktu abis-abisan. Belum lagi sampe situ, udah tamat dengan IP yang cukup membahagiakan, cari kerja belum tentu dapet. Udah dapet, hadapilah tempat itu. Yang tua biasanya ngerasa kalau yang muda itu pengalamannya dangkal banget. Persaingan pun makin diperketat. Apalagi kalau kerja di perusahaan swasta, tiba-tiba dia diPHK gara-gara perusahaan itu gulung bambu, eh, gulung tikar. Gimana lagi itu, coba? Belum lagi persaingan buat ngedapetib jodoh. Belum lagi... belum lagi...

Jadi sebenarnya, ngedapetin PTN bergengsi bukan berarti akhir dari semua perjuangan, malah justru jadi titik awal dalam perjuangan hidupnya yang lebih berat lagi. Siapkan waktu, tenaga, en pikiran lagi, buat menghadapi hidup yang jauh lebih keras. Berjuang sekarang, en lebih berjuang lagi untuk tahun-tahun ke depannya. Tapi jangan lupa juga sama ALLAH. Jangan cuma ngejar dunia, karena sebenarnya waktu di dunia dibanding di akhrat itu singkaaaat banget. Tetep terus beribadah, belajar en berbuat baik untuk sesama. :)

Tulisan di tengah Minggu pagi. 

Rabu, 02 November 2011

Lambat laun semua pergi. Aku terdiam. Terdiam bukan berarti aku menyesali kepergian mereka, tapi lebih tepatnya menikmati.

```````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````
Aku pergi menuju tambatan hati yang hilang. Musnah, musnah ditelan zaman, dulunya. Tapi secara tak sengaja aku menemukan mereka. Mereka adalah kekayaan, jabatan dan dia, lelaki yang kuidamkan bertahun-tahun lamanya. Awalnya aku tak meminta mereka kembali, setelah mereka pergi begitu saja. Diawali oleh penyakit kanker rahim yang kualami 5 tahun silam. Secara ajaib mereka pergi. Ya, termasuk dia, lelaki yang kuidamkan bertahun-tahun. Tapi kami belum menikah. Kami hanya menjalin hubungan yang, yaaah, kau tahu itu apa.

"Aku pergi untuk sementara", katanya meyakinkan. Tapi aku tak percaya, karena setiap lelaki pasti tak pernah memegang setiap katanya.

"Pergilah", kataku, "pergilah sejauh yang kau mau. Terserah kau mau kembali atau tidak".

Dan dia pergi, ke Birmingham, untuk melanjutkan studi dan pekerjaannya yang tertunda. Ya, dia memang kerja di Birmingham sebagai konsultan keuangan sebuah perusahaan swasta. Aku di London, sebagai manager sebuah hotel berbintang lima, dan cuti setelah terkena kanker rahim.

"Anne", katanya untuk yang terakhir, "aku pasti kembali".

Aku hanya diam, dan menikmati kepergian mereka.

``````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````
Lambat laun aku menikmati semuanya. Menikmati sakit yang sangat luar biasa. Rahimku diangkat pada akhirnya, setelah bertahan selama 2 tahun. Stadium akhir, kata mereka. Jelas sangat merasa kehilangan. Tapi selama aku berada di rumah sakit setelah operasi menakutkan itu, aku merasa sangat bahagia. Di samping kasurku ada kasur seorang wanita. Dia menderita tumor otak. Kepalanya sudah botak, dioperasi. Tapi dia hebat, dia bisa menutupinya dengan kain yang aku lupa namanya, dan belakangan aku tahu namanya jilbab. Nama wanita itu indah, Aisha.

Dia sangat luar biasa. Tak ada keluhan sakit yang keluar dari bibirnya. Dia berkata ketika kutanya, "ini semua kehendak Tuhan, Anne. Kita selalu diujiNya dengan caraNya yang berbeda. Aku terkena tumor, kamu kanker. Semoga kita tetap bersabar melewatinya". Aisha selalu tersenyum jika berkata seperti itu. Dan aku selalu senang melihat senyumnya, matanya yang berbinar kebiruan menyipit. Indah.

Aku bertanya padanya ketika dia melakukan sesuatu, mengusap debu dari dinding kamar dan meletakkannya ke sebagian tubuhnya, dan kemudian berbaring menghadap jendela kamar itu. Katanya dia melakukan tayyamum kemudian shalat. Dia melakukannya sebanyak 7 kali dalam sehari. Katanya, 5 diantaranya harus dilaksanakan tapi yang lainnya tidak.

Dia mengajarkanku banyak hal. Cara makan yang baik, cara tidur yang baik, bahkan cara masuk ke kamar mandi yang baik. Aku selalu senang ketika dia mengajarkanku seperti itu. Ada rasa bahagia yang besar ketika melihat, mendengar dan melakukannya, entah kenapa. Dan hal yang paling membuatku tergugah ketika aku melihat dia membuka sebuah buku, katanya kitab yang namanya Al Qur'an.

"Khusyuk sekali bacanya, Aisha. Apa itu?" tanyaku dulu.

"Al Qur'an", katanya tersenyum. "Disini ada artinya loh. Kamu mau baca?"

"Oh, tidak usah. Aku dengar saja ya."

Aku memang begitu. Tidak mau terlalu lancang. Lagian, kitabku saja jarang kubuka, apalagi kitab orang lain, pikirku. Tapi semakin aku mendengar Aisha membacanya, aku merasa tergetar dan damai. Tiba-tiba saja itu semua menjalar ke tubuhku.

Dan aku hanya menginap disana selama 2 minggu pasca operasi. Aisha masih ada disana ketika aku pulang. Dia memberiku kenang-kenangan, kain yang indah sekali. Ibunya yang membelikan itu khusus untukku.

"Semoga kita bisa berjumpa di lain waktu ya Anne. Aku tetap merindukanmu."

Dan pelukan hangat pun langsung kuberikan padanya. Mataku basah, dan aku pergi ke alam luar tanpa Aisha.

```````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````

Dan tentu saja, mereka menyambutku senang. Mommy yang single parent, saudara, teman-teman di kantor, relasi. Semuanya bahagia melihatku kembali pulang. Aku pun tersenyum.

"Anne! Kau tampak cantik sekali!"

Dan mereka mengadakan pesta untuk menyambutku. Aku mengikutinya, tapi ketika temanku menawarkan whisky, aku menolaknya secara otomatis. Padahal akulah juara dalam "pertandingan" meminum whisky melawan mereka.

Dan ketika mereka mengajakku untuk berdansa, aku semakin menolak. Padahal, sebelum aku operasi, aku bisa berdansa di atas panggung selama lebih dari 5 jam.

Mereka menganggapku berubah, tapi menurutku tidak. Aku hanya ingin menjadi yang lebih baik dan berharga, itu saja. Aku tidak mau lagi bertindak konyol, karena aku yakin karena tindakan konyolku dulu aku kehilangan rahimku. Selain itu, jujur saja, aku terpengaruh dengan cara hidup Aisha yang lebih baik dan masuk akal.

Aku kembali bekerja, sebagai manager di hotel yang sama. Meskipun mereka tidak terlalu akrab lagi denganku, tapi prestasiku dalam pekerjaan semakin meningkat. Semakin banyak orang-orang datang menginap di hotel, terutama turis dari berbagai negeri. Mereka semakin puas dengan pelayanan kami. Dan otomatis, namaku makin melambung. Aku ditawari menjadi general manager.

Dan uang pun semakin banyak, seperti sel yang terus membelah diri. Aku bisa membeli mobil sport yang sangat kuinginkan: Volkswagen R32. Rasanya luar biasa, melambung tinggi sejauh itu.

Dan Brian, laki-laki yang kuidamkan bertahun lamanya, kembali. Kembali hadir dan berusaha melengkapi kebahagiaanku saat itu. Aku seakan tak percaya, dia rela pergi ke London dari Birmingham pada saat musim dingin tiba. Dan kami bertemu, kembali lagi seperti dulu. Memadu kasih.

Aku merasa sangat bahagia, apalagi kehadiran Brian dalam hidupku. Kami kembali, kembali seperti dulu. Memadu kasih dan yaah kau tahu apa namanya cinta buta. Perlahan aku lupakan Aisha dan gaya hidupnya yang kuteladani itu.

Dan pada akhirnya, ibunya datang ke rumahku. Sebelumnya Mommy hampir mengusirnya, karena Mommy kurang suka ada orang yang tak dikenal, apalagi Muslimah yang kemana-mana menggunakan penutup kepala, datang ke rumahnya. Aku melarang Mommy mengusir ibu Aisha, dan Mommy minta maaf padanya setelah itu.

Dan kabar duka pun menghampiri telinga. Aisha meninggal dunia sebulan sebelum ibunya mengabariku karena demam tinggi. Ibunya meminta maaf memberitahuku terlambat, karena ibunya masih cukup trauma untuk keluar rumah.

"Anne, sebelum dia meninggal, dia terus memikirkanmu. Dia terus mengulang cerita tentangmu denganku. Sampai-sampai seminggu sebelum meninggal dia menulis surat untukmu dan memintaku untuk menyampaikannya padaku dengan hadiah ini. Terjemah Al Qur'an."

Air mataku terus saja meleleh. Aku tak pernah merasa sesedih ini sebelumnya. Aisha adalah orang yang paling berpengaruh terhadap kesembuhanku, dan aku melupakannya. Dia pergi meninggalkanku dan sebelumnya terus mengingatku. Ini sangat berat untukku, kami seperti memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Aku gemetar mengambil hadiah dan surat itu dari tangan ibunya.

"Sabarlah, Nak. Aku juga merasa sangat kehilangan, tapi Tuhan selalu memberi yang terbaik untuk kita. Inilah yang terbaik untuk Aisha."

Aku mengangguk, dan ibunya pamit untuk kembali pulang.

```````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````````
*bersambung lagi nanti disini*

Sabtu, 29 Oktober 2011


percayalah, semuanya akan berakhir. bagai debu terbang dihembus angin lembut. meski semua ini berat untuk dijalani, tapi tentu semua ada hikmahnya. kita bagai bermain dalam sandiwara, sedang berada di posisi klimaks. tentu, antiklimaks itu akan datang, meskipun lambat dan kita tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. saatnya kita bersabar, menorehkan senyum di atas "kanvas" wajah kita, dan bagi senyum itu ke semua orang. perlahan tapi pasti, beratnya beban akan semakin berkurang, pada akhirnya bernilai nol, sambil kita tuntaskan semuanya dengan cara yang di luar dugaan, dan tentunya menghadirkan doa di tengah usaha. yakinlah, bahwa ALLAH selalu ada dan sangat dekat dengan kita, dan membantu kita menuju ke antiklimaks, kemudian ditutup dengan akhir yang bahagia. :)


Iva Rosa Nasution
tulisan yang terbit di tengah tugas dan ujian yang menumpuk

kita adalah kita, sutradara sekaligus tokoh utama dalam kehidupan kita sendiri, yang langsung diproduseri oleh ALLAH dan yang lain sebagai pemeran pembantu. kita punya hak penuh untuk menentukan kemana hidup kita mengarah, yang lain hanya sekedar membantu untuk mengarahkan kita ke salah satu arah di antara tiga, hitam, abu-abu atau putih. ambil keputusan itu, hadapi juga nikmati resiko dan tantangan yang harus dilalui. dan jangan pernah sekalipun lupa, ALLAH Maha Tahu apa yang kita kerjakan.


Iva Rosa Nasution
terinspirasi dengan buku yang baru dipinjam di perpustakaan siang itu

telah di-post di Facebook sebelumnya

langit mendung, kelam menahan hujan yang tak terperi. andai kau tahu kawan, kalau bukan karenaNya aku takkan bertahan sekokoh ini, sekuat ini, sekokoh pohon beringin yang tak pernah goyah ditiup angin. andai kau tahu, kawan, terkadang kau harus menggugurkan egomu demi kebaikan orang lain. kalau kau manusia sejati, pegang janjimu. pertahankan semuanya hingga janjimu terlunasi pada akhirnya.
ketika kau hanya memikirkan dirimu, urusanmu, hidupmu, nafasmu, langkahmu, otakmu, denyut jantungmu, atau apapun itu tentangmu, kau hanya bergerak sampai situ. ya, tak lebih. pikiranmu pun tak berkembang, hanya sampai situ. dan lebih buruknya lagi, kebaikanmu hanya sampai situ, hatimu hanya sampai situ, atau mungkin, imanmu hanya sampai situ. hanya mempercayai dirimu.
ingatlah, kebaikan itu tak dibalas sesegera mungkin. kau harus lebih banyak bersabar menunggu hasil kebaikan itu. tapi ingatlah, Tuhan Maha Melihat, Dia jauh lebih tersenyum melihat hambaNya yang ikhlas tanpa pamrih ketimbang melihat hambaNya yang selalu menagih tanpa syukur. dan ketika kau merasa diinjak harga dirimu setelah kau berbuat baik, ingatlah, doa orang teraniaya didengarNya, dan dikabulkan. lebih baik lagi jika kau mendoakannya ketimbang kau menyumpahinya. Dia akan tersenyum padamu berlipat-lipat lamanya, berlipat-lipat banyaknya.
jangan hanya karena satu hal saja kau langsung menyerah, lepas dan tinggalkan janji itu secepat kilat menyambar. semua yang kau ambil ada resiko, dan semua yang kau alami tentu ada hikmahnya. untuk apa semua itu terjadi tapi tidak ada hal baik yang bisa kau petik?
pesanku terakhir, sebelum kau ambil keputusan itu, ingatlah Tuhanmu. akan seberapa kecewakah dia padamu. jika kau sangat mencintaiNya, kau pasti tak mau membuatNya terluka.

Iva Rosa Nasution
ditulis di tengah kemelut dalam hati dan otaknya.

telah di-post di Facebook sebelumnya
Hidup adalah pilihan. Ada 3 pilihan yang hadir dalam hidup, menjadi baik, menjadi buruk atau berada di antaranya. Jauh lebih sulit untuk memilih jadi baik dibanding menjadi buruk atau berada di antaranya, karena menjaga sesuatu yang baik memang sangat sulit, sesulit engkau menggenggam angin di telapak tanganmu. Ketika kau memilih sesuatu, tentu ada resikonya, termasuk memilih jadi orang baik. Menjadi siswa yang baik, anak yang baik, ibu yang baik, kakak yang baik, adik yang baik, teman yang baik, bahkan hamba Tuhan yang baik ada ujiannya. Ketika kau berusaha untuk memperbaiki dirimu dan menjalani semua hal yang baik menurut keyakinanmu, tentu saja banyak orang yang akan memperolok dirimu dan menganggap dirimu sama dengan orang-orang yang memilih jadi buruk dan berada di antaranya.
Ingatlah, bahwa ketika engkau berusaha memperoleh kebaikan, engkau akan terus dialiri dengan segala hal yang baik dan merasa dilindungi dari hal-hal buruk, begitu juga sebaliknya. Dan hal yang paling baik adalah ketika engkau mengetahui sesuatu dan mulai mengamalkannya dalam hidupmu. Maka ketika engkau berusaha untuk mencapai kebaikan dan engkau diperolok bahkan hal itu terjadi terus menerus, orang yang memperolokmu adalah orang yang rugi, karena dia tidak tahu betapa nikmatnya berusaha dalam mencapai kebaikan. Dan Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dan malaikatNya akan terus mencatat semua itu, dan harus ia pertanggungjawabkan di akhir kehidupan dunia.
Ketika kau tidak tahan dengan segala olokan itu, lepaskanlah kesedihanmu dengan Tuhanmu, karena Tuhanlah tempat terbaik untuk mengadu dan meminta tolong. Dan berusahalah untuk tersenyum pada dunia, meskipun hatimu terus bergemuruh. Yakinlah, Tuhan Maha Adil lagi Maha Melihat.

When you try to always love ALLAH n love something bcause of ALLAH, you will get the comfort, although no one besides you rite now. Bcause you have ALLAH =*

Iva Rosa Nasution
Tulisan ini merupakan pelajaran yang ia peroleh di Selasa yang cukup cerah



telah di-post di Facebook sebelumnya

Jumat, 18 Juni 2010

Ya. Hidup dengan sejuta mimpi, bagaimana menurut Anda? Mimpi yang dibahas disini adalah angan-angan dan keinginan, bukan dalam tidur. Banyak sekali insan-insan muda, di Indonesia khususnya, yang takut bermimpi. Ada yang berargumen bahwa bermimpi hanyalah aktivitas yang membuang waktu. Ada yang berargumen bahwa mimpi itu belum tentu terwujud, daripada kita putus asa mimpi kita takkan terwujud, lebih baik tak usah.
Kawan, jika Anda memiliki pemikiran yang demikian, hidup Anda akan berjalan monoton. Anda akan seperti jalan lurus yang akan tetap lurus, takkan ada tikungan. Datar. Hidup Anda hanya akan penuh dengan kepasrahan. Anda hanya akan seperti sepersemiliar atom yang netral. Kecil sekali, sehingga tidak akan terlihat siapa Anda. Jika Anda tidak memiliki sat mimpi saja, bagaimana Anda dapat mencapai hidup yang bahagia? Apakah Anda puas dengan hidup yang itu-itu saja? Apakah Anda tidak bergairah untuk melewati tantangan kehidupan dunia, sebelum melalui kehidupan akhirat?
Begitu banyak orang di dunia ini yang tidak takut bermimpi. Jadi kenyataan atau tidak, itu tergantung dari optimalnya usaha Anda menggapainya. Ibaratnya, jika kita ingin memindahkan lemari besar, Anda harus mendorongnya dan mengoptimalkan usaha Anda sehingga dapat berpindah ke posisi yang Anda mau.
Ir. Soekarno, presiden wahid Indonesia, dapat menjadi presiden karena mimpinya. Dulu, semasa ia masih muad, ia sering ke perpustakaan. Ia bercerita ke temannya bahwa suatu saat nanti ia akan jadi presiden. Tentu saja temannya tidak percaya. Akhirnya, ia berusaha menggapai mimpinya dan itu terwujud. Temannya pun tak percaya dengan dijadikannya Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia.
Dari kisah di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dengan bermimpi, kita akan berusaha seoptimal mungkin mencapai keinginan itu. Jangan pernah takut bermimpi, karena Tuhan menggenggam mimpi kita.
:)

.ivarosanasution.