Kekurangan Teladan
Kemalaman ya kayaknya nulis postingan jam segini. Yaaa, not really if you get so many idea in this time :D tapi sebenarnya lebih baik share lebih cepat dibanding enggak sama sekali, apalagi dengan judul yang seperti ini, isn't it?
Oke. Kita cerita soal fakta. Fakta yang udah terus bertambah setiap detiknya kalo kita bener-bener kekurangan teladan. Kita, secara otomatis, terbentuk menjadi rakyat, pendengar sekaligus pemerhati yang enggak bisa langsung menjadikan salah satu orang di depan mata kita sekarang sebagai teladan kita. Tapi apa sebenarnya teladan itu? As you know, teladan adalah *seseorang* yang bisa dijadikan sebagai barang contoh terbaik dari yang lainnya, jadi lifestylenya kita ikuti, kata-katanya kita jadikan sebagai quote dan perbuatannya bisa membuat kita sadar dan kita ikuti, meskipun sebenarnya tidak semua hal darinya kita bisa copas tanpa saring. Karena yang namanya teladan tetap manusia, pasti ada kekurangannya.
Tapi teladan bernilai lebih tinggi dari standar yang ada, dan standar itu sendiri secara otomatis dapat kita tentukan, berdasarkan kode alam *???*. Jadi kita udah bisa tentuin siapa yang jadi teladan kita *dan biasanya teladan itu bernilai baik*. But, kenapa kita bener-bener kekurangan teladan? Kalo misalnya teladan itu bernilai lebih tinggi dari standar dan kita kekurangan teladan, berarti hampir semuanya berada dalam posisi standar, bahkan di bawah standar itu sendiri. Seperti aku, siswa. Aku rasa aku tak pantas dibilang sebagai teladan. Banyak hal yang kulakukan sebagai siswa tetap pada nilai standar bahkan ada yang di bawah standar. Dan aku belum bisa menuliskan siapa yang tepat disebut sebagai siswa teladan walaupun udah ada pemilihan siswa teladan.
Presiden. Bukannya sok baik, tapi inilah rakyat, bisa menilai dan bebas mengungkapkan pendapat. Di Indonesia, belum ada setauku presiden yang mau keluar malam-malam tanpa pengawalan super ketat terus mantau lingkungan tempat dia berada *bukan berarti tempat tinggalnya*. Jadi presiden belum tentu liat apa yang terjadi di tengah malam, kalo ada anak yang tinggal di bantaran sungai yang menangis di tengah malam gara-gara gak dapet makanan. Mungkin itu urusan remeh-temeh untuk sekaliber presiden, tapi dengan menyelesaikan urusan sekecil itu beliau belajar untuk menyelesaikan urusan lebih besar. Kita lihat Umar bin Khaththab yang keluar malam, sendirian ketika beliau jadi khalifah, mendengar anak menangis ketika gak ada makanan sementara emaknya cuma bisa ngerebus batu, dia langsung bawa banyak makanan, digendong di atas punggungnya sendirian dan dianter langsung tanpa pengawal.
Guru. Mohon maaf kalo ada yang tersinggung, but this is the fact. Banyak banget guru yang terlambat masuk gara-gara keasyikan ngobrol sama guru lain. Bisa sampe udah satu les baru dateng. Banyak yang berkata sama muridnya: saya enggak perlu kalian sebenarnya, karena gaji saya dikasih dari pemerintah, jalan terus kok. Bukan kalian yang gaji saya. Kalo begini berarti yang mau didapetnya cuma gaji bukan mau paket lengkap, plus pahala yang terus mengalir. Aku tau, enggak semua guru begini dan selama 12 tahun aku sekolah, aku nemuin beberapa guru yang bisa dijadikan teladan, tapi kurang.
Aktivis dakwah, bahkan ustadz. Begitulah. Ada beberapa, tapi kurang. Bukan berarti menyalahkan ulama, enggak. Tapi dari pantauan, banyak yang belum sesuai antara kata dengan perbuatan. Pemahaman yang berbeda juga ngaruh ke sikap. Toh aku juga aktivis dakwah, berarti aku juga masuk di dalamnya. Banyak ustadz yang menyampaikan sesuatu tapi belum ada dalil naqli en aqli yang mendasari. Kebanyakan bercanda, tapi intisari materi belum dapet.
Mohon maaf sekali lagi, kalo ada yang enggak berkenan dengan penggunaan kata-kata disini. Bukan berarti membeberkan aib, tapi ini berguna buat kita juga sebagai bahan introspeksi diri, apalagi di awal tahun begini. Dan tentunya, menjalani semuanya enggak mudah. So, mulai sekarang udah waktunya kita perbaiki diri menjadi yang lebih baik. Kita, berarti termasuk juga sang penulis. Tapi bukan terobsesi menjadi teladan, karena orang yang benar-benar teladan adalah orang yang tak pernah berharap menjadi seorang teladan. Dan sebaik-baik teladan adalah Rasulullah. :)
Oke. Kita cerita soal fakta. Fakta yang udah terus bertambah setiap detiknya kalo kita bener-bener kekurangan teladan. Kita, secara otomatis, terbentuk menjadi rakyat, pendengar sekaligus pemerhati yang enggak bisa langsung menjadikan salah satu orang di depan mata kita sekarang sebagai teladan kita. Tapi apa sebenarnya teladan itu? As you know, teladan adalah *seseorang* yang bisa dijadikan sebagai barang contoh terbaik dari yang lainnya, jadi lifestylenya kita ikuti, kata-katanya kita jadikan sebagai quote dan perbuatannya bisa membuat kita sadar dan kita ikuti, meskipun sebenarnya tidak semua hal darinya kita bisa copas tanpa saring. Karena yang namanya teladan tetap manusia, pasti ada kekurangannya.
Tapi teladan bernilai lebih tinggi dari standar yang ada, dan standar itu sendiri secara otomatis dapat kita tentukan, berdasarkan kode alam *???*. Jadi kita udah bisa tentuin siapa yang jadi teladan kita *dan biasanya teladan itu bernilai baik*. But, kenapa kita bener-bener kekurangan teladan? Kalo misalnya teladan itu bernilai lebih tinggi dari standar dan kita kekurangan teladan, berarti hampir semuanya berada dalam posisi standar, bahkan di bawah standar itu sendiri. Seperti aku, siswa. Aku rasa aku tak pantas dibilang sebagai teladan. Banyak hal yang kulakukan sebagai siswa tetap pada nilai standar bahkan ada yang di bawah standar. Dan aku belum bisa menuliskan siapa yang tepat disebut sebagai siswa teladan walaupun udah ada pemilihan siswa teladan.
Presiden. Bukannya sok baik, tapi inilah rakyat, bisa menilai dan bebas mengungkapkan pendapat. Di Indonesia, belum ada setauku presiden yang mau keluar malam-malam tanpa pengawalan super ketat terus mantau lingkungan tempat dia berada *bukan berarti tempat tinggalnya*. Jadi presiden belum tentu liat apa yang terjadi di tengah malam, kalo ada anak yang tinggal di bantaran sungai yang menangis di tengah malam gara-gara gak dapet makanan. Mungkin itu urusan remeh-temeh untuk sekaliber presiden, tapi dengan menyelesaikan urusan sekecil itu beliau belajar untuk menyelesaikan urusan lebih besar. Kita lihat Umar bin Khaththab yang keluar malam, sendirian ketika beliau jadi khalifah, mendengar anak menangis ketika gak ada makanan sementara emaknya cuma bisa ngerebus batu, dia langsung bawa banyak makanan, digendong di atas punggungnya sendirian dan dianter langsung tanpa pengawal.
Guru. Mohon maaf kalo ada yang tersinggung, but this is the fact. Banyak banget guru yang terlambat masuk gara-gara keasyikan ngobrol sama guru lain. Bisa sampe udah satu les baru dateng. Banyak yang berkata sama muridnya: saya enggak perlu kalian sebenarnya, karena gaji saya dikasih dari pemerintah, jalan terus kok. Bukan kalian yang gaji saya. Kalo begini berarti yang mau didapetnya cuma gaji bukan mau paket lengkap, plus pahala yang terus mengalir. Aku tau, enggak semua guru begini dan selama 12 tahun aku sekolah, aku nemuin beberapa guru yang bisa dijadikan teladan, tapi kurang.
Aktivis dakwah, bahkan ustadz. Begitulah. Ada beberapa, tapi kurang. Bukan berarti menyalahkan ulama, enggak. Tapi dari pantauan, banyak yang belum sesuai antara kata dengan perbuatan. Pemahaman yang berbeda juga ngaruh ke sikap. Toh aku juga aktivis dakwah, berarti aku juga masuk di dalamnya. Banyak ustadz yang menyampaikan sesuatu tapi belum ada dalil naqli en aqli yang mendasari. Kebanyakan bercanda, tapi intisari materi belum dapet.
Mohon maaf sekali lagi, kalo ada yang enggak berkenan dengan penggunaan kata-kata disini. Bukan berarti membeberkan aib, tapi ini berguna buat kita juga sebagai bahan introspeksi diri, apalagi di awal tahun begini. Dan tentunya, menjalani semuanya enggak mudah. So, mulai sekarang udah waktunya kita perbaiki diri menjadi yang lebih baik. Kita, berarti termasuk juga sang penulis. Tapi bukan terobsesi menjadi teladan, karena orang yang benar-benar teladan adalah orang yang tak pernah berharap menjadi seorang teladan. Dan sebaik-baik teladan adalah Rasulullah. :)

0 comments:
Posting Komentar